Optimis atau Pesimis ya …
Beberapa hari terakhir ini membaca berita di koran, melihat tayangan di televisi membuat hati menjadi miris.Para fakir miskin berburu zakat orang-orang kaya, dan perjuangan untuk mendapatkan zakat yang tak seberapatersebut ibarat menyebrang jalanan di kota jakarta.
Jalanan jakarta adalah ajang menampilkan mesin-mesin pembunuhyang gagah perkasa. Saat pejuang-pejuang hidup memulai langkah untuk mengais rejeki, saat itulah nyawa menjadi tameng terdepan sebagai taruhannya.
Kemiskinan tak pernah lepas dari jerat perekonomian. Kebutuhan hidup yang terus mencekik leher masyarakat,memicu faktor kenekatan dalam ragam hidup. Apa saja akan dilakoni untuk mengatasi masalah yang rasa-rasanya tak sanggup untuk diatasi dan terus membebani jiwa dan pikiran. Pola pikiran menjadi dipersempit, tak ayal tak ada lagi logika dan rasa. Yang miskin tak pernah sadar dengan kemiskinan, jiwa malas-malasan dengan khayalan hidup enak, membunuh hasrat untuk berusaha.
Segala hal dari bangsa ini memang sudah terlihat bobroknya. Rakyat menghujat negaranya.Negara terus dipersalahkan atas segala ketidakmerataan, kesenjangan, kemiskinan, ketidakadilan..dan lain sebagainya.
Tanpa berfikir untuk memperbaiki kualitas diri. Nasionalisme telah tercerabut dari akar patriotisme di dada. Jiwa-jiwa telah terkontaminasi Pola Emang Gue Pikirin..ketidakpedulian telah berkembang biak seperti virus. Semangat hedonisme dan konsumerisme sebagai dampak kebebasan global menggerogoti keluarga-keluarga di negara ini. ga gaul klo ga bermerk, ga gaul kalo ga nongkrong di kafe, ga gaul klo ga pernah dugem, ga gaul klo punya gadget ini. Ke-ga gaul-an yang mendorong anak muda melupakan jati diri dan masa depan bangsa. tengoklah bagaimana negara vietnam sekarang ini, seperti tak ada kesan bahwa negara tersebut baru bangkit dari perang yang terjadi di tahun 70-an.
Negara Indonesia ini telah dininabobokan, cap sebagai negara yang penduduknya ramah-tamah, santun, sopan, dan lainnya..sekarang hanya retorika saja.sekarang ini susah untuk menemukan sifat-sifat itu ada di dalam jiwa masyarakat. Kegarangan, emosional dan prasangka yang berlebih2an, ketakpedulian, individualisme telah menjadi maskot dalam pluralisme disemua sendi kehidupan.
Menurut anda kita harus berpikir optimis atau pesimis ya ?


